Saat ini saya sedang melanjutkan studi S2 saya di Pascasarjana FE UI, jurusan PPIE. Mahasiswanya terdiri dari berbagai macam karakter dan latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Kebanyakan dari kami adalah pegawai yang bekerja pada instansi pemerintahan, beberapa yang lain adalah pebisnis, pegawai swasta. Kalau saya pribadi masuk ke dalam golongan pengangguran sukarela hehe. Saya tidak bekerja di instansi manapun. Saya melanjutkan studi saya dengan mendapatkan beasiswa dari ADB (Ayah Dan Bunda) hehehe.
Dari keberagaman ini lah saya sedikit belajar bahwa, meskipun kita berbeda latar belakang hingga usia yang terlampau jauh, kita masih bisa belajar bersama tanpa ada yang merasa tersisihkan. Saling membantu kekurangan teman-teman. Yang menguasai materi suatu mata kuliah, maka dia akan mengajarkan atau membantu teman untuk mengerti materi yang belum terlalu dipahami.
Fasilitas yang diperoleh dari FE di Universitas Indonesia ini sangat memadai. Ruangan kelas yang nyaman, fasilitias internet yang mudah, laboratorium komputer yang setiap saat dapat digunakan, perpustakaan yang menyediakan berbagai macam sumber literatur, kantin, toilet yang bersih, musholla, bank, atm, dll semua tersedia. Semua tergantung dari mahasiswanya apakah mau memanfaatkan semua fasilitas itu dengan maksimal atau tidak. Saya pribadi belum melakukan itu, hhe
Tapi, sore tadi, saya menonton acara reality show di salah satu stasiun tv swasta. Menayankan profil keluarga miskin. Sepasang suami istri dengan tiga anak yang tinggal di tengah-tengah perkebunan dengan rumah yang hanya berbentuk kotak tanpa ada aliran listrik. Jika malam hanya dibantu oleh penerangan dari lampu minyak. Sang suami hanya bekerja sebagai pembuat madu semut, dengan penghasilan yang tidak menentu. Pulang ke rumah pun tidak bisa dia lakukan setiap hari karena pekerjaannya yang sulit dan jauh dari rumahnya. Yang ditayangkan tadi, sang suami baru pulang ke rumah setelah dua hari mencari madu semut dan hanya membawa 20ribu perak. Sangat sedih melihatnya. Sang istri akan mencari sumber penghasilan lain jika sang suami belum pulang membawa uang. Biasanya sang istri akan mencari tanaman paku, mulai dari pagi hari hingga sore hari dan itupun hanya mampu menghasilkan 3ribu rupiah. Begitu miris jika dibandingkan dengan apa yang saya dan teman di universitas ini dapatkan.
Saya sangat bersyukur dengan apa yang saya dapatkan saat ini. Benar kata ajaran agama Islam, untuk persoalan agama, lihatlah orang-orang yang di atas mu, agar engkau cemburu kepada mereka dan berusaha pula memperbanyak amal, sedangkan untuk persoalan dunia, lihatlah orang-orang di bawahmu, agar kamu selalu bersyukur kepada Sang Pencipta.
Do'aku untuk mereka...
"Ya Allah, berilah makan kepada saudara-saudara hamba yang sedang kelaparan, kesembuhan kepada mereka yang sedang sakit, berilah pekerjaan kepada mereka yang sedang mencari pekerjaan, mudahkanlah rejeki para penuntut ilmu, dan jauhkanlah kami dari murka Mu dan apa neraka Mu. Aamiinn aamiinn Ya Robbal alamiinnnn "
Tidak ada komentar:
Posting Komentar